MENJADI GURU YANG MEMPESONA
MENJADI GURU YANG MEMESONA?
Oleh Hernowo
Secara bahasa, pesona berarti daya tarik atau daya pikat. Memesona berarti sangat menarik perhatian, memukau, atau mengagumkan. Jadi, menjadi guru yang memesona adalah menjadi guru yang—dalam bahasa yang lebih lugas—menakjubkan. Seorang guru yang memesona adalah guru yang mau dan mampu menghidupkan kelas. Dia juga memiliki kepiawaian tingkat tinggi dalam menghangatkan suasana kegiatan belajar-mengajar. Dan, ini yang terpenting, dia senantiasa ingin mendorong, memberikan semangat kepada anak didiknya, serta menjadikan pencarian ilmu itu sebuah kegiatan yang bermakna dan sangat menggairahkan.
“Karena otak tak bisa memperhatikan semua hal, pelajaran yang tak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak akan diingat.”LAUNA ELLISON
Secara realistis, guru yang memesona dapat diwujudkan karena guru seperti itu sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Nah, salah satu syarat agar seorang guru dapat menjadi guru yang memesona—tentu saja, secara realistis—dan benar-benar mampu menciptakan suasana kegiatan belajar sebagaimana dirumuskan di atas adalah si guru harus mampu membangun dirinya terlebih dahulu sebagai model atau teladan sebagai “guru yang memesona”. Ringkasnya, dia memang harus mampu memesona dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum dia berhasil memesona orang lain. Ini, memang, seperti mengikuti “hukum emas”: sebelum kamu dapat mengatur orang lain secara efektif, kamu harus dapat mengatur dirimu sendiri.
Menjadi guru yang memesona bukan sekadar konsep. Ia juga bukan sebentuk pengetahuan yang hanya cukup jika sudah dipahami dan dikuasai. Dalam bahasa yang lain, ia bukan pengetahuan yang steril. Ia harus menjadi semacam ilmu yang bisa diamalkan dan terbukti “melekat” pada diri seseorang. “Melekat” di sini berarti bahwa ilmu itu dapat menyatu dengan diri seseorang—bukan sekadar menempel atau menjadi rumus-rumus yang dihafal saja—dan mendorong orang yang memiliki ilmu itu untuk berubah, bersikap, dan bertindak atas dasar konsep yang dikandung sang ilmu. Merujuk ke Stephen R. Covey, “menjadi guru yang memesona” mengandung knowledge, skill, and desire (to think, to act, and to feel).
Bagaimana memproduksi “guru yang memesona”?
Urgennya “Menjadi Guru yang Memesona”
“Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita.” DR. WILLARD DAGGETT
“Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita,” kata Dr. Willard Daggett, Direktur International Center for Leadership and Education. Apa yang dikatakan Dr. Daggett ini, meski sudah berumur puluhan tahun lalu, masih sangat relevan. Kata-kata Dr. Daggett bukan omong kosong. Kini, kita menyaksikan anak-anak ditarik secara sangat jauh dan dalam ke sebuah dunia-bukan-sekolah yang lebih menarik untuk mereka jalani. Dan dunia-bukan-sekolah itu bernama televisi, game, mall, cafe, konser-konser musik, smartphone, internet, pameran-pameran produk baru nan canggih, dan masih banyak lagi.
Mengikuti perkembangan dan perubahan lingkungan yang dahsyat itu, seakan-akan, sekolah-sekolah di masa kini ditantang untuk menjadi pesaing televisi dan kawan-kawannya itu. Apa mungkin sekolah berkompetisi dengan mereka? Apa layak sekolah harus bertanding dengan mereka? Apa sanggup sekolah menghadapi serbuan tak kenal lelah mereka dalam menarik anak-anak untuk lebih mementingkan mereka? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus kita jawab. Akan lebih baik jika kita melontarkan lebih banyak lagi pertanyaan. Apa mungkin sekolah menghindar dari ajang persaingan itu? Apa mungkin sekolah menutup diri dengan kenyataan yang ada itu? Apa mungkin sekolah hanya berdiam diri dan tetap melanjutkan kegiatannya seperti biasa?
“Bumi telah menjadi Venus,” kata pakar marketing Hermawan Kartajaya, “Dunia Venus adalah dunia yang lebih emosional dan interaktif. Di dunia itu, EQ lebih unggul ketimbang IQ atau—dalam bahasa yang lain—feel lebih penting dari think. Untuk memenangkan persaingan di Venus, Anda harus lebih banyak bermain di context (how to offer). Content—what to offer—yang bagus adalah suatu keharusan. Namun, content yang bagus tidaklah cukup. Content hanyalah ‘tiket’ untuk masuk ke arena persaingan, bukan untuk memenangkan persaingan. Context-lah ‘tiket’ Anda untuk memenangkan persaingan di Venus.”
“Pendidikan semestinya dapat membantu anak-anak mengeluarkan pelbagai potensinya.”ERIC FROMM
Merujuk ke pendapat Hermawan Kartajaya, content sekolah memang tidak harus berubah secara drastis. Hanya, di dunia sekarang, mengandalkan content yang baik tidaklah cukup. Tiket untuk memenangkan persaingan bukan terletak di content melainkan di context. Context yang terkait dengan sekolahlah yang harus terus-menerus berubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam Making Connections, Renate Nummela dan Geoffrey Caine menulis, “Salah satu tempat yang beroperasi dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu adalah sekolah lokal.” Entah apa yang ingin kita artikan dengan sebutan “sekolah lokal” sebagaimana dikatakan oleh dua pakar pendidikan asal California tersebut. Namun, betapa pentingnya sebuah sekolah—apa pun jenis sekolah itu—untuk berkaca pada lingkungannya.
Mungkin buku Quantum Learning dapat kita gunakan sebagai salah satu contoh tentang bagaimana kita fokus pada context terkait dengan sekolah. Di dalam buku Quantum Learning tidak kita temui content sekolah, seperti pembahasan akan materi pelajaran matematika, bahasa, kimia, fisika, geografi, atau yang lain. Quantum Learning lebih berbicara soal context, yaitu bagaimana membuat kegiatan belajar itu nyaman (bebas stres) dan menyenangkan. Mungkin inilah titik penting yang harus kita pahami terkait dengan urgennya “menjadi guru yang memesona”. Siapa saja yang ingin “menjadi guru yang memesona” layak untuk membuat kegiatan belajar-mengajar bisa lebih menarik daripada acara-acara di televisi atau pentas musik, atau game-game, atau hal-hal lain yang ditampilkan oleh dunia-bukan-sekolah. Bisakah atau mungkinkah?
Apa yang Akan Dilakukan oleh “Guru yang Memesona”?
Setelah fokus pada context, “guru yang memesona” perlu menjadikan content (ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah) menjadi ilmu yang memberdayakan, bukan yang memayahkan atau bahkan menyiksa. Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah harus dapat dikontekskan dengan realitas kehidupan. Apa jadinya jika ada ilmu, misalnya, yang tidak bisa dikontekskan dengan realitas kehidupan? Ilmu itu harus dipertimbangkan-kembali untuk diajarkan di sekolah. Atau, yang agak ekstrem, ilmu itu harus diganti dengan ilmu lain yang lebih relevan dan kontekstual.
Bagaimana mengkontekskan sebuah ilmu? Sebagai contoh, ambil ilmu bernama Bahasa Indonesia. Belajar tentang sintaksis atau tentang perbedaan antara “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai kata kerja tetap penting. Namun, belajar akan hal-hal seperti itu harus diimbangi dengan berlatih menciptakan sesuatu yang terkait dengan apa yang dipelajari dan dipahami. Ilmu yang dipelajari harus kemudian membuat diri si pemilik ilmu dapat menerapkannya di lingkungannya. Atau, setidaknya, ilmu itu harus mampu mendorongnya untuk menciptakn sebuah karya nyata. Jika tidak, ilmu itu akan mandul, tidak akan berdaya guna, dan tidak akan memberikan manfaat yang maksimal.
“Salah satu tempat yang beroperasi dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu adalah sekolah lokal.”RENATE NUMMELA &GEOFFREY CAINE
Agar ilmu dapat mendorong si pemilik ilmu untuk mencipta, pengajaran harus terjadi secara sangat emosional. Menurut riset Eric Jensen, emosilah yang memberi arti. Kegiatan belajar-mengajar yang tidak melibatkan emosi akan berlangsung datar, kering, dan tidak menggairahkan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kurikulum dirancang dengan berbasiskan kecerdasan emosi sebagaimana istilah “EQ” (emotional quotient) ini diusulkan oleh Daniel Goleman. Memang, ukuran-ukuran yang terkait dengan EQ ini belum sepenuhnya jelas dan akurat sebagaimana IQ. Namun, mengingat pentingnya pelibatan secara emosional, para guru harus mulai memperhatikan persoalan penting ini dan mulai berani mencoba untuk mengarah ke wilayah baru tersebut.
Bagaimana agar pengajaran sebuah ilmu terlibat secara sangat emosional? Pertama, sebelum mengajarkan ilmu yang dikuasainya tersebut, seorang guru harus mengecek apakah ilmu yang akan diajarkannya itu telah mampu membangkitkan motivasi dirinya untuk mengajar secara habis-habisan dan sungguh-sungguh atau tidak? Apakah ilmu itu memotivasi dirinya untuk tampil bersemangat dan bergairah di depan kelas? Dan apakah ilmu yang akan diajarkannya itu benar-benar sudah “melekat”, menyatu dengan dirinya, dalam bentuk pengalaman menerapkan berkali-kali secara konkret? Kedua, apakah ilmu itu juga membuat dirinya peduli kepada orang lain? Apakah ilmu itu, selain bermanfaat bagi dirinya sendiri juga bermanfaat untuk orang lain? Apakah ilmu itu bersifat sosial?
Agar kedua hal di atas—ilmu yang dikontekskan dan pengajaran yang emosional—dapat mewujud di sekolah, seorang guru yang ingin “menjadi guru yang memesona” perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan. Untuk menjadi kaya akan pengetahuan atau wawasan, si guru, mau tak mau, setidaknya harus memiliki keterampilan tinggi dalam membaca dan menulis (“mengikat makna”). Hanya dengan menjalankan secara kontinu dan konsisten kegiatan membaca dan menulislah seorang guru tidak mungkin tertinggal dari perkembangan dan perubahan zaman. Sumber-sumber pengetahuan di masa kini sangat melimpah. Sayangnya, untuk mengakses keberlimpahan sumber-sumber pengetahuan itu secara efektif, hanya membaca dan menulislah sarananya.
“Mengajar berarti membuat kehidupan seorang murid berbeda setiap harinya…”MICHAEL S.COMEAU
Banyak orang mengatakan menjalankan kegiatan membaca saja sudah cukup. Kegiatan membaca saja memang penting. Namun, hanya menjalankan kegiatan membaca di tengah perubahan zaman yang sangat pesat seperti sekarang ini tidaklah cukup. Kegiatan membaca harus didampingi oleh kegiatan menulis atau “mengikat”. Jika terlalu banyak yang dibaca dan terlalu banyak juga yang ingin dipahami, seseorang akan bingung dan akhirnya tenggelam dengan pelbagai data dan fakta ”mati” yang dibaca dan ingin dipahami itu. Kegiatan menulis atau “mengikat” akan dapat membantu seseorang untuk memilih mana materi yang penting dan berharga untuk diolah, disimpan, dan dikonstruksi, serta ”dihidupkan”.
Kegiatan menulis akan membantu seseorang untuk menghasilkan secara konkret kegiatan membaca. Tepat benar kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. ini, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Bayangkan, membaca adalah mencari ilmu agar pengetahuan dan wawasan kita terus bertambah. Namun, betapa sia-sianya kegiatan membaca itu dan apa yang dihasilkan dari membaca jika tidak segera dilanjutkan dengan “mengikat”? Menulis akan membantu seseorang bukan hanya menyimpan sesuatu tetapi juga menyusunnya secara rapi agar apa yang disimpan itu dapat dipanggil kembali dan didistribusikan menjadi sesuatu yang bercahaya.[]
BAHAN BACAAN:
Barbara K. Given, Brain-Based Teaching: Merancang Kegiatan Belajar-Mengajar yang Melibatkan Otak Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetis, dan Refelktif, Kaifa, 2007.
Barbara Prashnig, The Power of Learning Styles: Memacu Anak Melejitkan Prestasi dengan Mengenali Gaya Belajarnya, Kaifa, 2007.
Brian Tracy, Change Your Thinking, Change Your Life: Bebaskan Potensi Dahsyat Anda untuk Kesuksesan yang Tidak Terbatas, Kaifa, 2005.
Danah Zohar dan Ian Marshall, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, Mizan, 2005.
Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ, Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Gordon Dryden dan Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar: Belajar Akan Eefektif Kalau Anda Berada dalam Keadaan ”Fun”, Kaifa, 2003.
Hermawan Kartajaya, Marketing in Venus, Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, MLC, 2005.
Martin E. P. Seligman, Authentic Happiness: Menciptakan Kebahagiaan dengan Piskologi Positif, Mizan, 2005.
Robert K. Cooper, Unleash Other Your 90%: Realisasikan 90% Potensi Tersembunyi Anda, Kaifa, 2007.
Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ: Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir, Mizan, 2008.
Thomas L. Harrison, The DNA of Success: Manfaatkan DNA Entrepreneurial untuk Keberhasilan Bisnis, Kaifa, 2008.
Oleh Hernowo
Secara bahasa, pesona berarti daya tarik atau daya pikat. Memesona berarti sangat menarik perhatian, memukau, atau mengagumkan. Jadi, menjadi guru yang memesona adalah menjadi guru yang—dalam bahasa yang lebih lugas—menakjubkan. Seorang guru yang memesona adalah guru yang mau dan mampu menghidupkan kelas. Dia juga memiliki kepiawaian tingkat tinggi dalam menghangatkan suasana kegiatan belajar-mengajar. Dan, ini yang terpenting, dia senantiasa ingin mendorong, memberikan semangat kepada anak didiknya, serta menjadikan pencarian ilmu itu sebuah kegiatan yang bermakna dan sangat menggairahkan.
“Karena otak tak bisa memperhatikan semua hal, pelajaran yang tak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak akan diingat.”LAUNA ELLISON
Secara realistis, guru yang memesona dapat diwujudkan karena guru seperti itu sangat dibutuhkan pada zaman sekarang. Nah, salah satu syarat agar seorang guru dapat menjadi guru yang memesona—tentu saja, secara realistis—dan benar-benar mampu menciptakan suasana kegiatan belajar sebagaimana dirumuskan di atas adalah si guru harus mampu membangun dirinya terlebih dahulu sebagai model atau teladan sebagai “guru yang memesona”. Ringkasnya, dia memang harus mampu memesona dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum dia berhasil memesona orang lain. Ini, memang, seperti mengikuti “hukum emas”: sebelum kamu dapat mengatur orang lain secara efektif, kamu harus dapat mengatur dirimu sendiri.
Menjadi guru yang memesona bukan sekadar konsep. Ia juga bukan sebentuk pengetahuan yang hanya cukup jika sudah dipahami dan dikuasai. Dalam bahasa yang lain, ia bukan pengetahuan yang steril. Ia harus menjadi semacam ilmu yang bisa diamalkan dan terbukti “melekat” pada diri seseorang. “Melekat” di sini berarti bahwa ilmu itu dapat menyatu dengan diri seseorang—bukan sekadar menempel atau menjadi rumus-rumus yang dihafal saja—dan mendorong orang yang memiliki ilmu itu untuk berubah, bersikap, dan bertindak atas dasar konsep yang dikandung sang ilmu. Merujuk ke Stephen R. Covey, “menjadi guru yang memesona” mengandung knowledge, skill, and desire (to think, to act, and to feel).
Bagaimana memproduksi “guru yang memesona”?
Urgennya “Menjadi Guru yang Memesona”
“Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita.” DR. WILLARD DAGGETT
“Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat daripada sekolah-sekolah kita,” kata Dr. Willard Daggett, Direktur International Center for Leadership and Education. Apa yang dikatakan Dr. Daggett ini, meski sudah berumur puluhan tahun lalu, masih sangat relevan. Kata-kata Dr. Daggett bukan omong kosong. Kini, kita menyaksikan anak-anak ditarik secara sangat jauh dan dalam ke sebuah dunia-bukan-sekolah yang lebih menarik untuk mereka jalani. Dan dunia-bukan-sekolah itu bernama televisi, game, mall, cafe, konser-konser musik, smartphone, internet, pameran-pameran produk baru nan canggih, dan masih banyak lagi.
Mengikuti perkembangan dan perubahan lingkungan yang dahsyat itu, seakan-akan, sekolah-sekolah di masa kini ditantang untuk menjadi pesaing televisi dan kawan-kawannya itu. Apa mungkin sekolah berkompetisi dengan mereka? Apa layak sekolah harus bertanding dengan mereka? Apa sanggup sekolah menghadapi serbuan tak kenal lelah mereka dalam menarik anak-anak untuk lebih mementingkan mereka? Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini tidak harus kita jawab. Akan lebih baik jika kita melontarkan lebih banyak lagi pertanyaan. Apa mungkin sekolah menghindar dari ajang persaingan itu? Apa mungkin sekolah menutup diri dengan kenyataan yang ada itu? Apa mungkin sekolah hanya berdiam diri dan tetap melanjutkan kegiatannya seperti biasa?
“Bumi telah menjadi Venus,” kata pakar marketing Hermawan Kartajaya, “Dunia Venus adalah dunia yang lebih emosional dan interaktif. Di dunia itu, EQ lebih unggul ketimbang IQ atau—dalam bahasa yang lain—feel lebih penting dari think. Untuk memenangkan persaingan di Venus, Anda harus lebih banyak bermain di context (how to offer). Content—what to offer—yang bagus adalah suatu keharusan. Namun, content yang bagus tidaklah cukup. Content hanyalah ‘tiket’ untuk masuk ke arena persaingan, bukan untuk memenangkan persaingan. Context-lah ‘tiket’ Anda untuk memenangkan persaingan di Venus.”
“Pendidikan semestinya dapat membantu anak-anak mengeluarkan pelbagai potensinya.”ERIC FROMM
Merujuk ke pendapat Hermawan Kartajaya, content sekolah memang tidak harus berubah secara drastis. Hanya, di dunia sekarang, mengandalkan content yang baik tidaklah cukup. Tiket untuk memenangkan persaingan bukan terletak di content melainkan di context. Context yang terkait dengan sekolahlah yang harus terus-menerus berubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Dalam Making Connections, Renate Nummela dan Geoffrey Caine menulis, “Salah satu tempat yang beroperasi dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu adalah sekolah lokal.” Entah apa yang ingin kita artikan dengan sebutan “sekolah lokal” sebagaimana dikatakan oleh dua pakar pendidikan asal California tersebut. Namun, betapa pentingnya sebuah sekolah—apa pun jenis sekolah itu—untuk berkaca pada lingkungannya.
Mungkin buku Quantum Learning dapat kita gunakan sebagai salah satu contoh tentang bagaimana kita fokus pada context terkait dengan sekolah. Di dalam buku Quantum Learning tidak kita temui content sekolah, seperti pembahasan akan materi pelajaran matematika, bahasa, kimia, fisika, geografi, atau yang lain. Quantum Learning lebih berbicara soal context, yaitu bagaimana membuat kegiatan belajar itu nyaman (bebas stres) dan menyenangkan. Mungkin inilah titik penting yang harus kita pahami terkait dengan urgennya “menjadi guru yang memesona”. Siapa saja yang ingin “menjadi guru yang memesona” layak untuk membuat kegiatan belajar-mengajar bisa lebih menarik daripada acara-acara di televisi atau pentas musik, atau game-game, atau hal-hal lain yang ditampilkan oleh dunia-bukan-sekolah. Bisakah atau mungkinkah?
Apa yang Akan Dilakukan oleh “Guru yang Memesona”?
Setelah fokus pada context, “guru yang memesona” perlu menjadikan content (ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah) menjadi ilmu yang memberdayakan, bukan yang memayahkan atau bahkan menyiksa. Ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah harus dapat dikontekskan dengan realitas kehidupan. Apa jadinya jika ada ilmu, misalnya, yang tidak bisa dikontekskan dengan realitas kehidupan? Ilmu itu harus dipertimbangkan-kembali untuk diajarkan di sekolah. Atau, yang agak ekstrem, ilmu itu harus diganti dengan ilmu lain yang lebih relevan dan kontekstual.
Bagaimana mengkontekskan sebuah ilmu? Sebagai contoh, ambil ilmu bernama Bahasa Indonesia. Belajar tentang sintaksis atau tentang perbedaan antara “di” sebagai kata depan dan “di” sebagai kata kerja tetap penting. Namun, belajar akan hal-hal seperti itu harus diimbangi dengan berlatih menciptakan sesuatu yang terkait dengan apa yang dipelajari dan dipahami. Ilmu yang dipelajari harus kemudian membuat diri si pemilik ilmu dapat menerapkannya di lingkungannya. Atau, setidaknya, ilmu itu harus mampu mendorongnya untuk menciptakn sebuah karya nyata. Jika tidak, ilmu itu akan mandul, tidak akan berdaya guna, dan tidak akan memberikan manfaat yang maksimal.
“Salah satu tempat yang beroperasi dengan cara yang sama seperti 50 tahun lalu adalah sekolah lokal.”RENATE NUMMELA &GEOFFREY CAINE
Agar ilmu dapat mendorong si pemilik ilmu untuk mencipta, pengajaran harus terjadi secara sangat emosional. Menurut riset Eric Jensen, emosilah yang memberi arti. Kegiatan belajar-mengajar yang tidak melibatkan emosi akan berlangsung datar, kering, dan tidak menggairahkan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kurikulum dirancang dengan berbasiskan kecerdasan emosi sebagaimana istilah “EQ” (emotional quotient) ini diusulkan oleh Daniel Goleman. Memang, ukuran-ukuran yang terkait dengan EQ ini belum sepenuhnya jelas dan akurat sebagaimana IQ. Namun, mengingat pentingnya pelibatan secara emosional, para guru harus mulai memperhatikan persoalan penting ini dan mulai berani mencoba untuk mengarah ke wilayah baru tersebut.
Bagaimana agar pengajaran sebuah ilmu terlibat secara sangat emosional? Pertama, sebelum mengajarkan ilmu yang dikuasainya tersebut, seorang guru harus mengecek apakah ilmu yang akan diajarkannya itu telah mampu membangkitkan motivasi dirinya untuk mengajar secara habis-habisan dan sungguh-sungguh atau tidak? Apakah ilmu itu memotivasi dirinya untuk tampil bersemangat dan bergairah di depan kelas? Dan apakah ilmu yang akan diajarkannya itu benar-benar sudah “melekat”, menyatu dengan dirinya, dalam bentuk pengalaman menerapkan berkali-kali secara konkret? Kedua, apakah ilmu itu juga membuat dirinya peduli kepada orang lain? Apakah ilmu itu, selain bermanfaat bagi dirinya sendiri juga bermanfaat untuk orang lain? Apakah ilmu itu bersifat sosial?
Agar kedua hal di atas—ilmu yang dikontekskan dan pengajaran yang emosional—dapat mewujud di sekolah, seorang guru yang ingin “menjadi guru yang memesona” perlu memperkaya dirinya dengan pengetahuan. Untuk menjadi kaya akan pengetahuan atau wawasan, si guru, mau tak mau, setidaknya harus memiliki keterampilan tinggi dalam membaca dan menulis (“mengikat makna”). Hanya dengan menjalankan secara kontinu dan konsisten kegiatan membaca dan menulislah seorang guru tidak mungkin tertinggal dari perkembangan dan perubahan zaman. Sumber-sumber pengetahuan di masa kini sangat melimpah. Sayangnya, untuk mengakses keberlimpahan sumber-sumber pengetahuan itu secara efektif, hanya membaca dan menulislah sarananya.
“Mengajar berarti membuat kehidupan seorang murid berbeda setiap harinya…”MICHAEL S.COMEAU
Banyak orang mengatakan menjalankan kegiatan membaca saja sudah cukup. Kegiatan membaca saja memang penting. Namun, hanya menjalankan kegiatan membaca di tengah perubahan zaman yang sangat pesat seperti sekarang ini tidaklah cukup. Kegiatan membaca harus didampingi oleh kegiatan menulis atau “mengikat”. Jika terlalu banyak yang dibaca dan terlalu banyak juga yang ingin dipahami, seseorang akan bingung dan akhirnya tenggelam dengan pelbagai data dan fakta ”mati” yang dibaca dan ingin dipahami itu. Kegiatan menulis atau “mengikat” akan dapat membantu seseorang untuk memilih mana materi yang penting dan berharga untuk diolah, disimpan, dan dikonstruksi, serta ”dihidupkan”.
Kegiatan menulis akan membantu seseorang untuk menghasilkan secara konkret kegiatan membaca. Tepat benar kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. ini, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” Bayangkan, membaca adalah mencari ilmu agar pengetahuan dan wawasan kita terus bertambah. Namun, betapa sia-sianya kegiatan membaca itu dan apa yang dihasilkan dari membaca jika tidak segera dilanjutkan dengan “mengikat”? Menulis akan membantu seseorang bukan hanya menyimpan sesuatu tetapi juga menyusunnya secara rapi agar apa yang disimpan itu dapat dipanggil kembali dan didistribusikan menjadi sesuatu yang bercahaya.[]
BAHAN BACAAN:
Barbara K. Given, Brain-Based Teaching: Merancang Kegiatan Belajar-Mengajar yang Melibatkan Otak Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetis, dan Refelktif, Kaifa, 2007.
Barbara Prashnig, The Power of Learning Styles: Memacu Anak Melejitkan Prestasi dengan Mengenali Gaya Belajarnya, Kaifa, 2007.
Brian Tracy, Change Your Thinking, Change Your Life: Bebaskan Potensi Dahsyat Anda untuk Kesuksesan yang Tidak Terbatas, Kaifa, 2005.
Danah Zohar dan Ian Marshall, Spiritual Capital: Memberdayakan SQ di Dunia Bisnis, Mizan, 2005.
Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ, Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Gordon Dryden dan Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar: Belajar Akan Eefektif Kalau Anda Berada dalam Keadaan ”Fun”, Kaifa, 2003.
Hermawan Kartajaya, Marketing in Venus, Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Jalaluddin Rakhmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak, MLC, 2005.
Martin E. P. Seligman, Authentic Happiness: Menciptakan Kebahagiaan dengan Piskologi Positif, Mizan, 2005.
Robert K. Cooper, Unleash Other Your 90%: Realisasikan 90% Potensi Tersembunyi Anda, Kaifa, 2007.
Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ: Menyingkap Rahasia Kecerdasan Berdasarkan Al-Quran dan Neurosains Mutakhir, Mizan, 2008.
Thomas L. Harrison, The DNA of Success: Manfaatkan DNA Entrepreneurial untuk Keberhasilan Bisnis, Kaifa, 2008.
Sumber : EKUATOR e-magazine mizan.com Edisi 15 Agustus 2008
Komentar