KISAH RUSA KECIL DAN BURUNG SAKTI
KISAH RUSA KECIL DAN BURUNG SAKTI
oleh Iif Sarifah, S.Pd.
Alkisah di sebuah rimba belantara ada seekor rusa yang ingin sekali membaca isi hati hewan lain. Keinginannya begitu menggebu setiap kali ia menyaksikan pertunjukan sulap Bu Merak. Pada suatu hari, ia duduk melamun di bawah pohon tua yang rindang.
“ Hebat sekali Bu Merak! Dia bisa mengubah benda-benda menjadi segala sesuatu yang ia inginkan. Seandainya saja aku bisa mengetahui isi hati seluruh penghuni hutan ini, pasti aku akan tahu siapa yang jadi musuh dan sahabatku. Aku juga bisa menjadi raja karena aku lebih hebat dari mereka semua. Aku punya kesaktian mengetahui isi hati semua penghuni hutan ini. O, bahagianya kalau semua itu terjadi. Aku bisa memilih sahabat-sahabatku untuk menjadi para prajurit kepercayaanku dan menyingkirkan semua penghuni hutan yang memusuhiku.”
“Hai, Rusa Kecil apa yang kaulakukan di sini?” Tanya Kambing Hutan membuyarkan lamunannya.
“ O, kamu Kambing Hutan, mengagetkan aku saja!”
“Apa yang kaulakukan di sini? Tampaknya kamu sedang memiliki masalah yang berat ya? Coba kau ceritakan masalahmu! Kita kan sudah lama bersahabat, mungkin aku bisa membantu kesulitanmu,” ujar Kambing Hutan sambil duduk di samping rusa kecil.
“Sungguh kau akan membantuku?Kau mau berjanji tidak menertawakan ceritaku?”Rusa Kecil tak percaya.
“Ya, aku akan coba membantumu,”Kambing Hutan meyakinkan si Rusa Kecil.
Maka Rusa Kecilpun menceritakan keinginannya mengetahui isi hati seluruh penghuni hutan.
“Apa? Kau ingin tahu isi hati seluruh penghuni hutan? Itu mustahil! Keinginanmu tak mungkin terwujud!”
“Tadi kau berjanji akan membantuku karena kau sahabatku. Ternyata kau pembohong!”Rusa Kecil berlari sambil menangis.
“ Tunggu Rusa Kecil, tunggu! Aku, aku akan membantumu!”Kambing Hutanpun berlari mengejar si Rusa Kecil. Rusa Kecilpun berhenti mendengar ucapan si Kambing Hutan.
“ Kau sungguh akan membantuku?”
“ Ya, aku baru ingat, aku pernah mendengar cerita bahwa tidak jauh dari hutan ini ada seekor burung sakti yang tinggal di lereng gunung. Mungkin ia bisa membantumu mewujudkan keinginanmu itu.”
“ Benarkah itu?” Mata Rusa Kecil berbinar-binar.
“ Ya, itu benar menurut kabar yang pernah aku dengar.”
“ Baiklah aku akan ke sana, kau mau menemaniku?”
“ Maaf sahabatku, aku tak bisa menemanimu. Aku takut karena …katanya sebelum sampai ke tempat burung tersebut ada harimau buas dan sakti yang gemar memangsa kambing hutan seperti aku ini. Kau saja yang berangkat. Menurut kabar yang kudengar pula, kau harus berjalan mengikuti arah matahari terbit untuk menemui burung sakti tersebut. Aku hanya membantumu sampai di sini ya?”
Rusa Kecil tercenung, ”Baiklah sahabat, tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri. Aku berterima kasih karena kau mau memberiku petunjuk menuju ke sana. Doakan aku!”
“Jika tekadmu sudah bulat, doaku selalu menyertaimu. Hati-hati terhadap harimau buas itu!” Kambing Hutan menunduk sedih.
“Terima kasih, kau memang sahabat yang baik. Semoga setelah kepergianku, kaupun mendapatkan sahabat yang lebih baik dari pada aku,”Rusa Kecil memandangnya sedih. Iapun segera berlalu dari hadapan si Kambing Hutan, meninggalkan hutan menggapai keinginannya yang terpendam.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Rusa Kecil kelelahan dan hendak beristirahat. Ia melihat sebuah sungai kecil dengan rumput-rumput hijau nan segar di tepinya. Iapun meminum air sungai yang jernih itu dan memakan rumput-rumput hijau itu dengan lahap. Ketika ia sedang menikmati rumput tersebut, ia mendengar suara keras yang tak asing lagi di telinganya.
“Ya, Tuhan, itu suara harimau. Jangan-jangan itu harimau yang diceritakan si Kambing Hutan. Apa yang harus kulakukan?”Rusa Kecil ketakutan.
Benar saja. Seekor harimau besar telah berdiri menakutkan di depannya.
“Siapa kau?Berani sekali memasuki wilayah kekuasaanku!”
“Saya…saya…,”Rusa Kecil mengulur waktu sambil mencari akal untuk menghindari bahaya.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau tak tahu aku sudah lama tak makan daging rusa?” Harimau mengelus-elus perutnya.
“Ampun, Tuan Harimau. Kalau hamba sendiri merasa bangga jika dimangsa oleh Tuan Harimau yang terkenal sakti dan gagah perkasa di seluruh hutan belantara. Akan tetapi, hamba hanya mengingatkan Tuan Harimau akan bahaya yang mungkin menimpa Tuan Harimau jika memangsa hamba,”tutur Rusa Kecil penuh hormat.
“Apa maksudmu?Tak ada satupun bahaya yang bisa mencelakaiku karena kesaktianku tak terkalahkan.”
“Hamba tahu kalau Tuan Harimau sangat sakti. Akan tetapi, beranikah Tuan melawan majikan hamba yang juga sakti? Hamba tidak tahu siapa yang tersakti di antara kalian berdua,”terang Sang Rusa Kecil dengan tenang.
“Siapa majikanmu itu?”Tanya harimau berang.
“Majikan hamba hanyalah seekor burung, namun kesaktiannya juga telah termasyhur.”
“Kalau begitu bawa aku ke tempat majikanmu! Akan kubuktikan bahwa aku lebih sakti dari pada majikanmu itu,”harimaupun menepuk dada.
“O, tidak perlu repot, Tuanku! Demi menghormati kesaktian Tuanku, biar hamba saja yang membujuk majikan hamba agar mau mengadu kesaktian dengan Tuanku. Jika Tuan ikut bersama hamba mengunjunginya, pasti Tuan akan kelelahan ketika mengadu kesaktian nanti.”
“Benar juga pendapatmu. Kalau begitu aku akan menunggu di sini saja,” jawab harimau mengangguk-anggukan kepalanya. Rusa Kecil tersenyum, harimau yang katanya sakti itupun dapat ditipunya. Iapun melanjutkan perjalanannya ke lereng gunung tempat tinggal si Burung Sakti.
***
Tidak berapa lama dalam perjalanan, Rusa Kecilpun sampai di lereng gunung dan mencari-cari di manakah tempat tinggal burung sakti itu. Dalam kebingungannya, sayup-sayup ia mendengar nyanyian yang merdu. Iapun mencari asal suara nyanyian itu. Akhirnya, ia melihat seekor burung berbulu putih nan indah sedang bernyanyi di atas dahan sebuah pohon yang rindang. Burung itupun berhenti bernyanyi ketika melihatnya.
“Mungkinkah burung itu yang dimaksud kambing hutan?” Gumam Rusa Kecil.
“Aku tahu maksud kedatanganmu, Rusa Kecil!”
“Ha, dia tahu maksud kedatanganku? Berarti memang benar burung ini yang aku cari,” kata Rusa Kecil dalam hatinya yang penuh dengan rasa terkejut.
“Ya, akulah yang kau cari. Akan tetapi, aku tidak akan mengajarkan ilmuku tentang rahasia hati jika keinginanmu itu masih dilandasi rasa sombong.”
“Maksud Tuan Burung?”
“Coba kaupikirkan sendiri!Tanya dirimu sendiri!”
Rusa Kecil tercenung mendengar kata-kata burung sakti itu. Ia merasakan kebenaran kata-kata burung itu. Hatinyapun bimbang, apakah ia masih perlu mengetahui rahasia hati. Lama Rusa Kecil berpikir. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap mempelajari rahasia hati agar ia mengetahui penilaian teman-temannya yang sebenarnya terhadap dirinya.
“Tuan Burung mohon ajarkan saya ilmu itu! Saya hanya ingin tahu penilaian teman-teman hamba yang sebenarnya,” pinta Rusa Kecil.
“Baiklah, aku akan mengajarkannya kepadamu. Apa lagi harimau itu masih menunggumu, bukan?”Ujar burung itu,”Akan tetapi, ingat! Kau hanya bisa mengetahui rahasia hati itu hanya satu hari.”
“Hanya satu hari?”
“Ya, setelah itu, kau tidak akan bisa lagi mengetahui rahasia hati penghuni hutan. Kau bersedia?”
“Baiklah, tidak apa-apa, saya bersedia,”jawab Rusa Kecil pasrah.
Sejak itu, Rusa Kecil mempelajari rahasia hati dan cara mengalahkan kesaktian harimau buas itu. Kecerdasannya mampu memahami ilmu yang diajarkan burung putih dengan cepat.
Tiba saatnya Rusa Kecil kembali ke hutan asalnya. Iapun kembali melakukan perjalanan panjang. Dengan ilmu yang diajarkan burung putih itu pula, ia berhasil mengalahkan harimau yang sering mengganggu penghuni hutan lainnya. Belum lama ia masuk ke dalam hutan, ia mendengar suara-suara yang sangat bising.
“Duh, suara apa itu? Berisik sekali!” Rusa Kecil menutup telinganya.
Aneh, suara-suara bising itu akan semakin keras terdengar bila ia melewati kelompok hewan-hewan hutan. Apabila ia menjauhi mereka, suara-suara itupun mengecil.
“Ya, Tuhan. Apa itu suara-suara hati penghuni hutan ini yang menimbulkan bunyi bising itu? Aku baru mendengar suara itu beberapa jam saja sudah begitu menyakitkan telingaku. Untung ilmu rahasia hati hanya berlaku satu hari saja. Ini tak seperti yang kubayangkan. Suara-suara hati penghuni hutan bergabung membentuk suara yang memekakkan telinga. Ya, Tuhanku, ampuni hamba-Mu yang telah melampaui batas ini,”sesal Rusa Kecil.
“Hai, Rusa Kecil…! Kau sudah kembali?”Teriak Kambing Hutan gembira sambil berlari-lari menghampirinya bersama beberapa teman si Rusa Kecil.
“O, tidak! Sakit telingaku mendengar suara-suara tadi saja belum hilang, apa lagi mendengar suara-suara hati mereka lagi!Aku harus menyingkir dahulu dari hutan ini, nanti kalau ilmuku sudah hilang baru aku jelaskan kepada mereka,”Rusa Kecil berlari keluar hutan sambil menutup telinganya. Kini ia baru mengerti, kadang tidak tahu itu lebih baik dari pada tahu. Teman-teman yang tadi mengejarnya, berhenti berlari dan berdiri tak mengerti sambil memandang tingkah aneh Rusa Kecil.
oleh Iif Sarifah, S.Pd.
Alkisah di sebuah rimba belantara ada seekor rusa yang ingin sekali membaca isi hati hewan lain. Keinginannya begitu menggebu setiap kali ia menyaksikan pertunjukan sulap Bu Merak. Pada suatu hari, ia duduk melamun di bawah pohon tua yang rindang.
“ Hebat sekali Bu Merak! Dia bisa mengubah benda-benda menjadi segala sesuatu yang ia inginkan. Seandainya saja aku bisa mengetahui isi hati seluruh penghuni hutan ini, pasti aku akan tahu siapa yang jadi musuh dan sahabatku. Aku juga bisa menjadi raja karena aku lebih hebat dari mereka semua. Aku punya kesaktian mengetahui isi hati semua penghuni hutan ini. O, bahagianya kalau semua itu terjadi. Aku bisa memilih sahabat-sahabatku untuk menjadi para prajurit kepercayaanku dan menyingkirkan semua penghuni hutan yang memusuhiku.”
“Hai, Rusa Kecil apa yang kaulakukan di sini?” Tanya Kambing Hutan membuyarkan lamunannya.
“ O, kamu Kambing Hutan, mengagetkan aku saja!”
“Apa yang kaulakukan di sini? Tampaknya kamu sedang memiliki masalah yang berat ya? Coba kau ceritakan masalahmu! Kita kan sudah lama bersahabat, mungkin aku bisa membantu kesulitanmu,” ujar Kambing Hutan sambil duduk di samping rusa kecil.
“Sungguh kau akan membantuku?Kau mau berjanji tidak menertawakan ceritaku?”Rusa Kecil tak percaya.
“Ya, aku akan coba membantumu,”Kambing Hutan meyakinkan si Rusa Kecil.
Maka Rusa Kecilpun menceritakan keinginannya mengetahui isi hati seluruh penghuni hutan.
“Apa? Kau ingin tahu isi hati seluruh penghuni hutan? Itu mustahil! Keinginanmu tak mungkin terwujud!”
“Tadi kau berjanji akan membantuku karena kau sahabatku. Ternyata kau pembohong!”Rusa Kecil berlari sambil menangis.
“ Tunggu Rusa Kecil, tunggu! Aku, aku akan membantumu!”Kambing Hutanpun berlari mengejar si Rusa Kecil. Rusa Kecilpun berhenti mendengar ucapan si Kambing Hutan.
“ Kau sungguh akan membantuku?”
“ Ya, aku baru ingat, aku pernah mendengar cerita bahwa tidak jauh dari hutan ini ada seekor burung sakti yang tinggal di lereng gunung. Mungkin ia bisa membantumu mewujudkan keinginanmu itu.”
“ Benarkah itu?” Mata Rusa Kecil berbinar-binar.
“ Ya, itu benar menurut kabar yang pernah aku dengar.”
“ Baiklah aku akan ke sana, kau mau menemaniku?”
“ Maaf sahabatku, aku tak bisa menemanimu. Aku takut karena …katanya sebelum sampai ke tempat burung tersebut ada harimau buas dan sakti yang gemar memangsa kambing hutan seperti aku ini. Kau saja yang berangkat. Menurut kabar yang kudengar pula, kau harus berjalan mengikuti arah matahari terbit untuk menemui burung sakti tersebut. Aku hanya membantumu sampai di sini ya?”
Rusa Kecil tercenung, ”Baiklah sahabat, tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri. Aku berterima kasih karena kau mau memberiku petunjuk menuju ke sana. Doakan aku!”
“Jika tekadmu sudah bulat, doaku selalu menyertaimu. Hati-hati terhadap harimau buas itu!” Kambing Hutan menunduk sedih.
“Terima kasih, kau memang sahabat yang baik. Semoga setelah kepergianku, kaupun mendapatkan sahabat yang lebih baik dari pada aku,”Rusa Kecil memandangnya sedih. Iapun segera berlalu dari hadapan si Kambing Hutan, meninggalkan hutan menggapai keinginannya yang terpendam.
***
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Rusa Kecil kelelahan dan hendak beristirahat. Ia melihat sebuah sungai kecil dengan rumput-rumput hijau nan segar di tepinya. Iapun meminum air sungai yang jernih itu dan memakan rumput-rumput hijau itu dengan lahap. Ketika ia sedang menikmati rumput tersebut, ia mendengar suara keras yang tak asing lagi di telinganya.
“Ya, Tuhan, itu suara harimau. Jangan-jangan itu harimau yang diceritakan si Kambing Hutan. Apa yang harus kulakukan?”Rusa Kecil ketakutan.
Benar saja. Seekor harimau besar telah berdiri menakutkan di depannya.
“Siapa kau?Berani sekali memasuki wilayah kekuasaanku!”
“Saya…saya…,”Rusa Kecil mengulur waktu sambil mencari akal untuk menghindari bahaya.
“Siapa kau sebenarnya? Apa kau tak tahu aku sudah lama tak makan daging rusa?” Harimau mengelus-elus perutnya.
“Ampun, Tuan Harimau. Kalau hamba sendiri merasa bangga jika dimangsa oleh Tuan Harimau yang terkenal sakti dan gagah perkasa di seluruh hutan belantara. Akan tetapi, hamba hanya mengingatkan Tuan Harimau akan bahaya yang mungkin menimpa Tuan Harimau jika memangsa hamba,”tutur Rusa Kecil penuh hormat.
“Apa maksudmu?Tak ada satupun bahaya yang bisa mencelakaiku karena kesaktianku tak terkalahkan.”
“Hamba tahu kalau Tuan Harimau sangat sakti. Akan tetapi, beranikah Tuan melawan majikan hamba yang juga sakti? Hamba tidak tahu siapa yang tersakti di antara kalian berdua,”terang Sang Rusa Kecil dengan tenang.
“Siapa majikanmu itu?”Tanya harimau berang.
“Majikan hamba hanyalah seekor burung, namun kesaktiannya juga telah termasyhur.”
“Kalau begitu bawa aku ke tempat majikanmu! Akan kubuktikan bahwa aku lebih sakti dari pada majikanmu itu,”harimaupun menepuk dada.
“O, tidak perlu repot, Tuanku! Demi menghormati kesaktian Tuanku, biar hamba saja yang membujuk majikan hamba agar mau mengadu kesaktian dengan Tuanku. Jika Tuan ikut bersama hamba mengunjunginya, pasti Tuan akan kelelahan ketika mengadu kesaktian nanti.”
“Benar juga pendapatmu. Kalau begitu aku akan menunggu di sini saja,” jawab harimau mengangguk-anggukan kepalanya. Rusa Kecil tersenyum, harimau yang katanya sakti itupun dapat ditipunya. Iapun melanjutkan perjalanannya ke lereng gunung tempat tinggal si Burung Sakti.
***
Tidak berapa lama dalam perjalanan, Rusa Kecilpun sampai di lereng gunung dan mencari-cari di manakah tempat tinggal burung sakti itu. Dalam kebingungannya, sayup-sayup ia mendengar nyanyian yang merdu. Iapun mencari asal suara nyanyian itu. Akhirnya, ia melihat seekor burung berbulu putih nan indah sedang bernyanyi di atas dahan sebuah pohon yang rindang. Burung itupun berhenti bernyanyi ketika melihatnya.
“Mungkinkah burung itu yang dimaksud kambing hutan?” Gumam Rusa Kecil.
“Aku tahu maksud kedatanganmu, Rusa Kecil!”
“Ha, dia tahu maksud kedatanganku? Berarti memang benar burung ini yang aku cari,” kata Rusa Kecil dalam hatinya yang penuh dengan rasa terkejut.
“Ya, akulah yang kau cari. Akan tetapi, aku tidak akan mengajarkan ilmuku tentang rahasia hati jika keinginanmu itu masih dilandasi rasa sombong.”
“Maksud Tuan Burung?”
“Coba kaupikirkan sendiri!Tanya dirimu sendiri!”
Rusa Kecil tercenung mendengar kata-kata burung sakti itu. Ia merasakan kebenaran kata-kata burung itu. Hatinyapun bimbang, apakah ia masih perlu mengetahui rahasia hati. Lama Rusa Kecil berpikir. Akhirnya, ia memutuskan untuk tetap mempelajari rahasia hati agar ia mengetahui penilaian teman-temannya yang sebenarnya terhadap dirinya.
“Tuan Burung mohon ajarkan saya ilmu itu! Saya hanya ingin tahu penilaian teman-teman hamba yang sebenarnya,” pinta Rusa Kecil.
“Baiklah, aku akan mengajarkannya kepadamu. Apa lagi harimau itu masih menunggumu, bukan?”Ujar burung itu,”Akan tetapi, ingat! Kau hanya bisa mengetahui rahasia hati itu hanya satu hari.”
“Hanya satu hari?”
“Ya, setelah itu, kau tidak akan bisa lagi mengetahui rahasia hati penghuni hutan. Kau bersedia?”
“Baiklah, tidak apa-apa, saya bersedia,”jawab Rusa Kecil pasrah.
Sejak itu, Rusa Kecil mempelajari rahasia hati dan cara mengalahkan kesaktian harimau buas itu. Kecerdasannya mampu memahami ilmu yang diajarkan burung putih dengan cepat.
Tiba saatnya Rusa Kecil kembali ke hutan asalnya. Iapun kembali melakukan perjalanan panjang. Dengan ilmu yang diajarkan burung putih itu pula, ia berhasil mengalahkan harimau yang sering mengganggu penghuni hutan lainnya. Belum lama ia masuk ke dalam hutan, ia mendengar suara-suara yang sangat bising.
“Duh, suara apa itu? Berisik sekali!” Rusa Kecil menutup telinganya.
Aneh, suara-suara bising itu akan semakin keras terdengar bila ia melewati kelompok hewan-hewan hutan. Apabila ia menjauhi mereka, suara-suara itupun mengecil.
“Ya, Tuhan. Apa itu suara-suara hati penghuni hutan ini yang menimbulkan bunyi bising itu? Aku baru mendengar suara itu beberapa jam saja sudah begitu menyakitkan telingaku. Untung ilmu rahasia hati hanya berlaku satu hari saja. Ini tak seperti yang kubayangkan. Suara-suara hati penghuni hutan bergabung membentuk suara yang memekakkan telinga. Ya, Tuhanku, ampuni hamba-Mu yang telah melampaui batas ini,”sesal Rusa Kecil.
“Hai, Rusa Kecil…! Kau sudah kembali?”Teriak Kambing Hutan gembira sambil berlari-lari menghampirinya bersama beberapa teman si Rusa Kecil.
“O, tidak! Sakit telingaku mendengar suara-suara tadi saja belum hilang, apa lagi mendengar suara-suara hati mereka lagi!Aku harus menyingkir dahulu dari hutan ini, nanti kalau ilmuku sudah hilang baru aku jelaskan kepada mereka,”Rusa Kecil berlari keluar hutan sambil menutup telinganya. Kini ia baru mengerti, kadang tidak tahu itu lebih baik dari pada tahu. Teman-teman yang tadi mengejarnya, berhenti berlari dan berdiri tak mengerti sambil memandang tingkah aneh Rusa Kecil.
Komentar