Tak Suka Bukan Berarti Neraka

Tak Suka Bukan Berarti Neraka
Oleh Iif Sarifah, S.Pd.

Setiap kita mungkin punya harapan dan cita-cita. Akan tetapi, kadang kenyataan tak seindah harapan. Apa yang kita rasakan? Kecewa, pasti. Jika kita dipaksa untuk menjalani sesuatu yang tidak sesuai harapan kita, mungkin rasa tidak suka yang timbul.
Bagaimanakah orang menyikapi rasa kecewa dan tak suka itu? Beragam cara orang menghadapinya. Dalam beberapa kasus, sebagian orang menghadapinya dengan aksi-aksi negatif. Misalnya, dalam sebuah tayangan televisi, ada seorang laki-laki yang ditangkap karena menjadi polisi gadungan. Motifnya, ia kecewa karena gagal masuk ke sekolah kepolisian. Ada pula orang tua yang memaksakan kehendak kepada anaknya untuk masuk ke sekolah tertentu, jurusan tertentu yang dianggap mampu menaikkan taraf sosial mereka. Mereka lebih menuruti ambisi daripada mempertimbangkan minat anak-anak mereka. Akhirnya, anak-anak mereka melakukan pemberontakan, baik secara halus, maupun secara terang-terangan. Ada yang dari rumah berangkat ke sekolah mengenakan seragam, tetapi hanya sampai tengah jalan, mereka membelokkan langkah entah ke mana. Di mata orang tua mereka, mereka baik karena selalu rajin berangkat ke sekolah. Orang tuanya baru sadar setelah ada surat panggilan dari sekolah. Ada lagi yang terang-terangan kabur dari rumah karena tidak mau menuruti kemauan orang tuanya. Kasus paling parah adalah terjerumus ke dalam dunia narkoba dan bunuh diri. Akhir dari semuanya, hanyalah kerugian.
Allah menciptakan alam ini berpasang-pasangan, termasuk ada suka, ada tidak suka, ada sukses, ada gagal, ada sikap negatif, ada pula sikap positif. Bagaimana kita menyikapi rasa kecewa dan tidak suka secara positif? Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan. Dalam keadaan menyenangkan kita bersyukur, dalam keadaan tak menyenangkan kita diajarkan untuk bersabar dan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan sholat. Dengan demikian, kesuksesan dan kebahagiaan dapat diraih.
“Bersyukurlah kamu, niscaya Kutambahkan nikmat-Ku.”
“Minta tolonglah kamu dengan sabar dan sholat!”
Aku masih ingat ketika seorang teman kecewa harus memilih jurusan yang tidak disukainya. Dia meragukan kemampuannya sendiri, apakah dia mampu mengikuti pelajaran-pelajaran dalam jurusannya itu? Namun, saat itu yang memotivasi dia adalah surat Al-‘Ashr.
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan yang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”
Saat itu, dia hanya mengatakan bahwa dia tidak mau menyia-nyiakan waktu karena dia tak mau menjadi manusia yang merugi. Diapun belajar menikmati jurusan yang awalnya tak disukai menjadi benar-benar dia sukai. Kini, dia malah bersyukur kepada Allah yang telah menempatkannya pada tempat yang terbaik. Seandainya keinginannya terwujud saat itu, belum tentu dia bisa seberhasil sekarang. Satu pelajaran berharga yang dapat kita petik,”Jika sesuatu dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh, maka buah manis kesuksesan yang didapat.”

Vey

Komentar

Postingan populer dari blog ini

COMPANY PROFILE MIS PEMBANGUNAN YAPIRI

10 Cara untuk Meningkatkan Prestasi di Sekolah